Kamis, 22 November 2012

Layanan Telematika, Teknologi Wireless, dan Middleware Telematika

1. Layanan Telematika
  • Layanan Telematika
1. Layanan Informasi (Information Service)
Layanan telematika yang pertama adalah layanan informasi. Pada layanan ini telematika menggabungkan sistem komunikasi dengan kendaran bergerak seperti mobil untuk menawarkan layanan informasi secara langsung.
Contohnya :
– Navigation assistant (real-time traffic information)
– Weather, stock information
– Entertainment and M-Commerce.
2. Layanan Telematika di bidang Keamanan
Layanan telematika yang kedua adalah layanan keamanan. Layanan ini menyediakan fasilitas untuk memantau dan memberikan informasi bila ada sesuatu yang berjalan tidak seharusnya. Layanan ini dapat mengurangi tingkat pencurian dan kejahatan.
Contohnya :
– Emergency rescue with 911
– Car location tracing (thief-proof)
3. Layanan Context-Aware dan  Event-base   (Context-Aware Service)
Context awareness adalah kemampuan sebuah sistem untuk memahami si user, network, lingkungan, dan dengan demikian melakukan adaptasi yang dinamis sesuai kebutuhan.
Contohnya :
– Vehicle Diagnostic Service
– Car Insurance based on driving statistic
4. Layanan Perbaikan sumber   (Resource Discovery Service)
Layanan telematika yang terakhir adalah layanan perbaikan sumber. Resource Discovery Service (RDS) adalah layanan untuk penemuan layanan utilitas yang diperlukan. The RDS juga berfungsi dalam pengindeksan lokasi layanan utilitas untuk mempercepat kecepatan penemuan.
Contohnya :
-Yellow pages service
  • Teknologi yang terkait interface telematika
Interface telematika adalah atribut sensor dari pertemuan sistem jaringan komunikasi dan teknologi informasi yang berhubungan dengan pengoperasian oleh pengguna. Ada 6 buah teknologi yang terkait dengan interface telematika, yaitu:
1. Head up display sistem
Head-up display, atau disingkat HUD, adalah setiap tampilan yang transparan menyajikan data tanpa memerlukan pengguna untuk melihat diri dari sudut pandang atau yang biasa
2. Tangible user interface
Tangible User Interface (TUI) adalah sebuah antar muka pengguna di mana seseorang berinteraksi dengan informasi digital melalui lingkungan fisik. Sebuah TUI adalah salah satu teknologi dimana pengguna berinteraksi dengan sistem digital melalui manipulasi obyek fisik terkait dan langsung mewakili kualitas sistem tersebut.
3. Computer vision
Computer Vision adalah ilmu dan teknologi mesin yang melihat, di mana mesin mampu mengekstrak informasi dari gambar yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas tertentu. Sebagai suatu disiplin ilmu, visi komputer berkaitan dengan teori di balik sistem buatan bahwa ekstrak informasi dari gambar.
4. Browsing audio data
Browsing Audio Data merupakan metode browsing jaringan yang digunakan untuk browsing video / audio data yang ditangkap oleh sebuah IP kamera. Sebuah komputer lokal digabungkan ke LAN (local area network) untuk mendeteksi IP kamera.
5. Speech recognition
Speech Recognition adalah proses identifikasi suara berdasarkan kata yang diucapkan dengan melakukan konversi sebuah sinyal akustik, yang ditangkap oleh audio device (perangkat input suara). Speech Recognition juga merupakan sistem yang digunakan untuk mengenali perintah kata dari suara manusia dan kemudian diterjemahkan menjadi suatu data yang dimengerti oleh komputer.
6. Speech Synthesis
Speech synthesis adalah transformasi dari teks ke arah suara (speech). Transformasi ini mengkonversi teks ke pemadu suara (speech synthesis) yang sebisa mungkin dibuat menyerupai suara nyata, disesuaikan dengan aturan – aturan pengucapan bahasa.

2. Teknologi Wireless

Pendahuluan
Teknologi jaringan saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, berbagai teknologi diciptakan untuk membantu manusia dalam berkomunikasi. Kalau pada era tahun 80-an teknologi jaringan komputer masih mengandalkan pada jaringan kabel, saat ini basis jaringan tersebut sudah banyak ditinggalkan karena keterbatasannya, seperti besarnya biaya yang harus di keluarkan oleh organisasi jika menggunakan teknologi ini (wired network), selain itu teknologi ini juga tidak flexibel karena sangat tergantung pada kabel.
Pada intinya jaringan wireless ini memiliki prinsip dasar sama dengan jaringan konvensional yang menggunakan kabel bedanya terletak pada media pengantar datanya. Jika pada jaringan konvensional menggunakan kabel sebagai media pengantar data antar komputer, pada Jaringan Wireless proses penyampaian data dilakukan melalui udara dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik.
Sehubungan dengan luas nya dunia pengetahuan mengenai teknologi jaringan ini, maka penulis hanya membahas pada teknologi wireless yang digunakan pada tipe Wireless Local Area Network (WLAN).

Definisi
Wireless atau wireless network merupakan sekumpulan perangkat elektronik  yang saling terhubung antara satu dengan lainnya sehingga terbentuk sebuah jaringan komunikasi data dengan menggunakan media udara/gelombang sebagai jalur lintas datanya. Jika LAN masih menggunakan kabel sebagai media lintas data, sedangkan wireless menggunakan media gelombang radio/udara. Penerapan dari aplikasi wireless network ini antara lain adalah jaringan nirkabel diperusahaan, atau mobile communication seperti handphone, dan HT.
Macam-macam type dari teknologi wireless antara lain :
  1. 1.    Wireless Personal Area Network (WPAN), mewakili teknologi personal area network wireless seperti :
-          Radio Frequensi (RF) Teknologi yang sudah lama digunakan namun, pasti kita tidak begitu sadar itu merupakan salah satu Wireless, dan RF ini merupakan perintis dari teknologi Wireless yang ada saat ini.
-          Infra Red  (IR). yaitu Sinar Infra Merah yang sebelum dipakai pada ponsel sebagai alat transmisi data, teknologi ini digunakan dalam Remote TV atau berbagai Remote lain-nya.
-          Bluetooth Teknologi BlueTooth ini merupakan modifikasi dari Frekuensi Radio, berbeda dengan Infra Red yang menggunakan medium cahaya. BlueTooth ini merupakan teknologi wireless standard pada ponsel yang berfungsi untuk pertukaran data dari jarak dekat menggunakan frekuensi radio sebesar 2,4Ghz.
  1. 2.    Wireless Wide Area Network (WWAN), WWAN meliputi teknologi dengan daerah jangkauan luas seperti selular 2G, 3G, 4G, Cellular Digital Packet Data (CDPD), Global System for Mobile Communications (GSM), dan CDMA.
Kemunculan Teknologi Wireless ini dimulai dari peralatan handheld yang mempunyai kegunaan yang terbatas karena ukurannya dan kebutuhan daya. Tapi, teknologi berkembang, dan peralatan handheld menjadi lebih kaya akan fitur dan mudah dibawa. Telepon mobil (Handphone),  telah meningkat kegunaannya yang sekarang memungkinkannya berfungsi sebagai PDA selain telepon. Smart phone adalah gabungan teknologi telepon mobil dan PDA yang menyediakan layanan suara normal dan email, penulisan pesan teks, paging, akses web dan pengenalan suara. Generasi berikutnya dari telepon mobil, menggabungkan kemampuan PDA, IR, Internet wireless, email dan global positioning system (GPS).
Pembuat juga menggabungkan standar, dengan tujuan untuk menyediakan peralatan yang mampu mengirimkan banyak layanan. Perkembangan lain yang akan segera tersedia padalah sistem global untuk teknologi yang berdasar komunikasi bergerak (berdasar GSM) seperti General Packet Radio Service (GPRS), Local Multipoint Distribution Service (LMDS), Enhanced Data GSM Environment (EDGE), dan Universal Mobile Telecommunications Service (UMTS).
  1. 3.    Wireless Local Area Network (WLAN), WLAN, mewakili local area network wireless, termasuk diantaranya adalah 802.11, HiperLAN, dan beberapa lainnya.

IEEE 802.11
IEEE 802.11 adalah standar yang diberikan IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) untuk penggunaan jaringan wireless (Wireless Local Area Networks – WLAN)
Terdapat tiga varian terhadap standard atau protocol tersebut yaitu:
  1. 1.    802.11a
Standar 802.11a digunakan untuk mendefiniskan jaringan wireless yang menggunakan frekuensi 5 GHz. Kecepatan jaringan ini lebih cepat dari standar standar 802.11b pada kecepatan transfer sampai 54 Mbps.
Untuk menggunakan standar 802.11a, perangkat-perangkat komputer (devices) hanya memerlukan dukungan kecepatan komunikasi 6 Mbps, 12 Mbps, dan 24 Mbps. Standar 802.11a juga mengoperasikan channel/ saluran 4 (empat) kali lebih banyak dari yang dapat dilakukan oleh standar 802.11 dan 802.11b. Walaupun standar 802.11a memiliki kesamaan dengan standar 802.11b pada lapisan Media Access Control (MAC), ternyata tetap tidak kompatibel dengan standar 802.11 atau 802.11b karena pada standar 802.11a menggunakan frekuensi radio 5 GHz sementara pada standar 802.11b menggunakan frekuensi 2,4 GHz. Walaupun standar 802.11a tidak kompatibel dengan standar 802.11b, beberapa vendor/ perusahaan pembuat perangkat Access Point berupaya menyiasati ini dengan membuat semacam jembatan (bridge) yang dapat menghubungkan antara standar 802.11a dan 802.11b pada perangkat access point buatan mereka. Access point tersebut di buat sedemikian rupa sehingga dapat di gunakan pada 2 (dua) jenis standar yaitu pada standar 802.11a dan standar 802.11b tanpa saling mempengaruhi satu sama lain.
Standar 802.11a merupakan pilihan yang amat mahal ketika di implementasikan. Hal ini disebabkan karena standar ini memerlukan lebih banyak Access point untuk mencapai kecepatan komunikasi yang tertinggi. Penyebabnya adalah karena pada kenyataannya bahwa gelombang frekuensi 5 GHz memiliki kelemahan pada jangkauan.
  1. 2.    Standar 802.11b
Standar 802.11b merupakan standar yang paling banyak digunakan di kelas standar 802.11. Standar ini merupakan pengembangan dari standar 802.11 untuk lapisan fisik dengan kecepatan tinggi. 802.11b digunakan untuk mendefinisikan jaringan wireless direct-sequence spread spectrum (DSSS) yang menggunakan gelombang frekuensi indusrial, scientific, medicine (ISM) 2,4 GHz dan berkomunikasi pada kecepatan hingga 11 Mbps. Ini lebih cepat daripada kecepatan 1 Mbps atau 2 Mbps yang ditawarkan oleh standar 802.11a. Standar 802.11b juga kompatibel dengan semua perangkat DSSS yang beroperasi pada standar 802.11.
Standar ini menyediakan metode untuk perangkat-perangkat tersebut untuk mencari (discover), asosiasi, dan autentikasi satu sama lain. Standari ini juga menyediakan metode untuk menangani tabrakan (collision) dan fragmentasi dan memungkinkan metode enkripsi melalui protokol WEP (wired equivalent protocol).
  1. 3.    Standar 802.11g
Standar 802.11g pada dasarnya mirip dengan standar 802.11a yaitu menyediakan jalur komunikasi kecepatan tinggi hingga 54 Mbps. Namun, frekuensi yang digunakan pada standar ini sama dengan frekuensi yang digunakan standar 802.11b yaitu frekuensi gelombang 2,4 GHz dan juga dapat kompatibel dengan standar 802.11b. Hal ini tidak dimiliki oleh standar 802.11a. Seperti standar 802.11.a, perangkat-perangkat pada standar 802.11g menggunakan modulasi OFDM untuk memperoleh kecepatan transfer data berkecepatan tinggi. Tidak seperti perangkat-perangkat pada standar 802.11a, perangkat-perangkat pada standar 802.11g dapat secara otomatis berganti ke quadrature phase shift keying (QPSK) untuk berkomunikasi dengan perangkat-perangkat pada jaringan wireless yang menggunakan standar 802.11b.
Dibandingkan dengan 802.11a, ternyata 802.11g memiliki kelebihan dalam hal kompatibilitas dengan jaringan standar 802.11b. Namun masalah yang mungkin muncul ketika perangkat-perangkat standar 802.11g yang mencoba berpindah ke jaringan 802.11b atau bahkan sebaliknya adalah masalah interferensi yang di akibatkan oleh penggunaan frekuensi 2,4 GHz. Karena seperti dijelaskan di awal bahwa frekuensi 2,4 GHz merupakan frekuensi yang paling banyak digunakan oleh perangkat-perangkat berbasis wireless lainnya.

  1. 4.    Standart 802.11n
IEEE 802.11n didasarkan pada standar 802,11 sebelumnya dengan menambahkan multiple-input multiple-output (MIMO) dan 40 MHz ke lapisan saluran fisik (PHY), dan frame agregasi ke MAC layer. MIMO adalah teknologi yang menggunakan beberapa antena untuk menyelesaikan informasi lebih lanjut secara koheren dari pada menggunakan satu antena. Dua manfaat penting MIMO adalah menyediakan keragaman antenna dan spasial multiplexing untuk 802.11n.
Kemampuan lain teknologi MIMO adalah menyediakan Spatial Division Multiplexing (SDM). SDM secara spasial multiplexes beberapa stream data independen, ditransfer secara serentak dalam satu saluran spektral bandwidth. MIMO. SDM dapat meningkatkan throughput data seperti jumlah dari pemecahan stream data spatial yang ditingkatkan. Setiap aliran spasial membutuhkan antena yang terpisah baik pada pemancar dan penerima. Di samping itu, teknologi MIMO memerlukan rantai frekuensi radio yang terpisah dan analog-ke-digital converter untuk masing-masing antena MIMO yang merubah biaya pelaksanaan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan sistem non-MIMO.
Saluran 40 MHz adalah fitur lain yang dimasukkan ke dalam 802.11n yang menggandakan lebar saluran dari 20 MHz di 802.11 PHY sebelumnya untuk mengirimkan data. Hal ini memungkinkan untuk penggandaan kecepatan data PHY melebihi satu saluran 20 MHz. Hal ini dapat diaktifkan di 5 GHz mode, atau dalam 2,4 GHz jika ada pengetahuan yang tidak akan mengganggu beberapa 802.11 lainnya atau sistem non-802.11 (seperti Bluetooth) menggunakan frekuensi yang sama.
Arsitektur coupling MIMO dengan saluran bandwidth yang lebih luas menawarkan peningkatan fisik transfer rate melebihi 802.11a (5 GHz) dan 802.11g (2,4 GHz).



 Tabel 1. Perbandingan standar jaringan 802.11

Diagram skematik dari dua aplikasi pada wireless LAN dapat diperhatikan pada gambar di bawah ini :



Dari gambar dapat kita  amati ilustrasi dari dua aplikasi wireless LAN.
  1. Infrastructure wireless LAN
Pada aplikasi ini, untuk mengakses suatu server adalah dengan menghubungkannya ke suatu wired LAN , di mana suatu intermediate device yang dikenal sebagai Portable Access unit (PAU) digunakan.  Typical-nya daerah cakupan PAU berkisar antara 50 hingga 100 m.
  1. Ad hoc wireless LAN
Pada Ad hoc wireless LAN suatu kumpulan komputer portabel berkomunikasi satu dengan yang lainnya untuk membentuk self-contained LAN. Pada jaringan ini, komunikasi antara satu perangkat komputer satu dengan yang lain dilakukan secara spontan/ langsung tanpa melalui konfigurasi tertentu selama sinyal dari Access Point dapat di terima dengan baik oleh perangkat-perangkat komputer di dalam jaringan ini.

Jenis-jenis Perangkat keras (Hardware) Wireless :
Wireless LAN (Wireless Local Area Network) pada dasarnya sama dengan jaringan Local Area Network yang biasa kita jumpai. Hanya saja, untuk menghubungkan antara node device antar client menggunakan media wireless, channel frekuensi serta SSID (Service Set Identifier) yang unik untuk menunjukkan identitas dari wireless device. Komponen pada WLAN Untuk bisa mengembangkan sebuah mode WLAN, setidaknya diperlukan empat komponen utama yang harus disediakan, yaitu :
  1. Access Point, Access Point akan menjadi sentral komunikasi antara PC ke ISP, atau dari kantor cabang ke kantor pusat jika jaringan yang dikembangkan milik sebuah korporasi pribadi. Access Point ini berfungsi sebagai konverter sinyal radio yang dikirimkan menjadi sinyal digital yang akan disalurkan melalui perangkat WLAN lainnya untuk kemudian akan dikonversikan kembali menjadi sinyal radio oleh receiver.
  2. Wireless LAN Interface, Alat ini biasanya merupakan alat tambahan yang dipasangkan pada PC atau Laptop. Namun pada beberapa produk laptop tertentu, interface ini biasanya sudah dipasangkan (build in) pada saat pembeliannya. Namun interface ini pula bisa diperjual belikan secara bebas dipasaran dengan harga yang beragam. Disebut juga sebagai Wireless LAN Adaptor USB.
  3. Mobile/Desktop PC, Perangkat akses untuk pengguna (user) yang harus sudah terpasang media Wireless LAN interface baik dalam bentuk PCI maupun USB.
  4. 4.    Antena External, digunakan untuk memperkuat daya pancar. Antena ini bisa dirakit sendiri oleh client (user), misal : antena kaleng.

Perangkat lunak (software) yang lazim dan biasa digunakan untuk mengetahui/mencari sinyal/gelombang wifi  selain yang ada dari driver perangkat keras itu sendiri yang telah terpasang pada sistem operasi antara lain adalah :
AP Locator, InSSIDer, NetStumbler,  Airsnort, Easy Wifi Radar, MhotSpot, Advanced Hot Scanner, dan lain sebagainya.

Keuntungan & Kekurangan  dari ”Wireless Fidelity (Wi-Fi)
Keuntungan Wireless (Wi-Fi) :
  1. Pemakai tidak dibatasi ruang gerak dan hanya dibatasi pada jarak jangkauan dari satu titik pemancar WIFI.
  2. Jarak pada sistem WIFI mampu menjangkau area 100 feet atau 30M radius. Selain itu dapat diperkuat dengan perangkat khusus seperti booster yang berfungsi sebagai relay yang mampu menjangkau ratusan bahkan beberapa kilometer ke satu arah (directional). Bahkan hardware terbaru, terdapat perangkat dimana satu perangkat Access Point dapat saling merelay (disebut bridge) kembali ke beberapa bagian atau titik sehingga memperjauh jarak jangkauan dan dapat disebar dibeberapa titik dalam suatu ruangan untuk menyatukan sebuah network LAN.
  3. Perangkat wireless untuk teknologi wireless Wi-Fi ini sudah umum digunakan dan harganya sudah menjadi relatif murah.
  4. Sebagian besar notebook tipe terbaru sudah dilengkapi dengan perangkat network wireless dengan teknologi Wi-Fi ini.
  5. Area jangkauan yang lebih fleksible dikarenakan tidak dibatasi oleh jaringan distribusi seperti bila menggunakan kabel UTP maupun fiber optic. Secara teoritis dengan daya pancar 100mW sudah dapat menjangkau area (berbentuk lingkaran) 1 – 2 km didukung dengan tinggi tower yang memadai.
  6. Memungkinkan Local Area Network untuk di pasang tanpa kabel, hal ini juga sekaligus akan mampu mengurangi biaya untuk pemasangan dan perluasan jaringan. Selain itu juga Wi-Fi dapat dipasang di area yang tidak dapat di akses oleh kabel, seperti area outdoor.
  7. Wi-Fi merupakan pilihan jaringan yang sangat ekonomis karena harga paket ship Wi-Fi yang terus menurun.
  8. Produk Wi-Fi tersedia secara luas di pasaran.
  9. Wi-Fi adalah kumpulan standard global di mana klien Wi-Fi yang sama dapat bekerja di negara-negara yang berbeda di seluruh dunia.
  10. Protocol baru untuk kualitas pelayanan dan mekanisme untuk penghematan tenaga membuat Wi-Fi sangat cocok untuk alat yang bentuknya sangat kecil dan aplikasi yang latency-sensitif (contohnya : suara dan video).
  11. Network ini di design untuk punya symetric up and down speed.

Kekurangan Wireless (Wi-Fi) :
Jaringan Wi-Fi bukanlah produk yang tidak memiliki kelemahan. Paparan kelemahan disini adalah bila dibandingkan dengan jaringan kabel. Kelemahan jaringan wireless secara umum dapat dibagi menjadi 2 jenis, yakni kelemahan pada konfigurasi dan pada jenis enkripsi yang digunakan. Contoh penyebab kelemahan pada konfigurasi adalah karena terlalu mudahnya membangun sebuah jaringan wireless. Karena Wi-Fi menggunakan teknologi tanpa kabel, maka pancarannya dapat diterima oleh setiap individu yang berada di dalam lingkungan penerimaan. Jika AP tidak dipasang dengan sempurna, ia akan menjadi ancaman untuk sistem komputer yang berada di dalam jaringan tersebut. Walaupun kecepatan Wi-Fi adalah 11Mbps, ia jarang bisa sampai ke tahap tersebut disebabkan oleh gangguan gelombang radio di kawasan sekitarnya.
Intinya, kelemahan Wi-Fi adalah :
  1. Untuk menggunakan WiFi kita harus ada di area yang dijangkau oleh WiFi atau istilahnya ‘hotspot’.
  2. Area jangkauan WiFi masih kecil, sinyalnya kurang bisa menembus tembok.
  3. Access Point lebih mudah disusupi virus.
  4. Pertukaran data gampang disadap.
  5. Penggunaan baterai relative lebih tinggi apabila dibandingkan dengan penggunaan standar, sehingga menyebabkan baterai cepat lemah atau habis (mempersingkat daya tahan baterai) dan menyebabkan panas.
  6. Bentuk Wireless enkripsi standar yang paling terkemuka. Wired Equivalent Privacy atau di persingkat WEP, telah menunjukkan fakta bahwa ia dapat di hancurkan (dikacaukan sinyal atau frekuensinya) meskipun telah di konfirmasikan secara benar.
  7. Jaringan Wi-Fi bisa di monitor dan di gunakan untuk membaca dan menduplikasikan data (termasuk di dalamnya data-data pribadi) yang disalurkan melalui jaringan ketika tidak ada akses tertutup, seperti VPN. Jika tembok batas akses Wi-Fi tidak terproteksi secara kuat untuk sebatas pada pemakai intern, maka network Wi-Fi bisa di akses bebas ber-internet.

Kesimpulan dan penutup
Penggunaan teknologi jaringan berbasis wireless merupakan pilihan yang tepat saat ini. Hal ini disebabkan mulai bergesernya perilaku perusahaan dalam menjalankan bisnis mereka. Dengan portabilitas dan kompatibiltas yang di tawarkan oleh teknologi wireless tentunya merupakan pilihan yang sangat menarik. Namun di balik itu harus di pertimbangkan juga teknologi wireless apa yang tepat untuk di terapkan di perusahaan sehingga dapat benar-benar membantu bisnis perusahaan tersebut. Hal ini dapat di lihat dari perbedaan dari masing-masing standar wireless yang tersedia saat ini (802.11, 802.11a, 802.11b, 802.11g). Dilihat dari sisi keamanan, tentunya 802.11b sedikit lebih baik karena dapat menerapkan metode enkripsi dengan menggunakan protokol WEP di dalam jaringan tersebut. Kalau dilihat dari sisi tidak adanya gangguan/ noise tentunya teknologi 802.11a lebih unggul karena standar ini hanya menggunakan frekuensi 5 GHz dimana frekuensi ini tidak banyak digunakan oleh perangkat-perangkat berbasis wirelees lainnya. Sehingga untuk mengatasi masalah-masalah tersebut diatas , maka standar 802.11g muncul untuk menjembatani kelemahan pada standar 802.11a dan 802.11b.

3. Middleware Telematika

Middleware didefinisikan sebagai sebuah aplikasi yang secara logic berada diantara lapisan aplikasi (application layer) dan lapisan data dari sebuah arsitektur layer-layer TCP/IP [1]. Middleware bisa juga disebut protokol. Protokol komunikasi middleware mendukung layanan komunikasi aras tinggi.

Perangkat lunak middleware adalah perangkat lunak yang terletak diantara program aplikasi dan pelayanan-pelayanan yang ada di sistim operasi. Adapun fungsi dari middleware adalah:

  • Menyediakan lingkungan pemrograman aplilasi sederhana yang menyembunyikan penggunaan secara detail pelayanan-pelayanan yang ada pada sistem operasi .
  • Menyediakan lingkungan pemrograman aplikasi yang umum yang mencakup berbagai komputer dan sistim operasi.
  • Mengisi kekurangan yang terdapat antara sistem operasi dengan aplikasi, seperti dalam hal: networking, security, database, user interface, dan system administration.
Database middleware adalah salah satu jenis middleware disamping message-oriented middleware, object-oriented middleware, remote procedure call, dan transaction processing monitor.

 
Tujuan Umum Middleware Telematika:
 
● Middleware adalah S/W penghubung yang berisi sekumpulan layanan yang memungkinkan beberapa proses dapat berjalan pada satu atau lebih mesin untuk saling berinteraksi pada suatu jaringan.
● Middleware sangat dibutuhkan untuk bermigrasi dari aplikasi mainframe ke aplikasi client/server dan juga untuk menyediakan komunikasi antar platform yang berbeda
● Middleware yang paling banyak dipublikasikan :
  • Open Software Foundation’s Distributed Computing Environment (DCE),
  • Object Management Group’s Common Object Request Broker Architecture (CORBA),
  • Microsoft’s COM/DCOM (Component Object Model)
Tipe Layanan Middleware:

1. Layanan Sistem Terdistribusi,
  • Komunikasi kritis, program-to-program, dan layanan manajemen data.
  • RPC, MOM (Message Oriented Middleware) dan ORB.
2. Layanan Application,
  • Akses ke layanan terdistribusi dan jaringan
  • Yang termasuk : TP (transaction processing) monitor dan layanan database, seperti Structured Query Language (SQL).
3. Layanan Manajemen Middleware,
  • Memungkinkan aplikasi dan fungsi dimonitor secara terus menerus untuk menyakinkan unjuk kerja yang optimal pada lingkungan terdistribusi lingkungan komputasi.
Prinsip Dasar :
  • Memungkinkan program yang sama dapat dijalankan pada platform apapun tanpa modifikasi
  • Halaman HTML ditulis dalam JavaScript yang dapat dijalankan pada web browser yang mendukung JavaScript.
  • Aplikasi Java dan applet dijalankan oleh suatu Java Virtual Machine, yang dapat dibuat untuk berbagai sistem operasi
Browser dan Java meniadakan kebutuhan platform tunggal kebutuhan middleware

Menyediakan kumpulan fungsi API (Application Programming Interfaces) yang lebih tinggi
daripada API yang disediakan sistem operasi dan layanan jaringan yang memungkinkan suatu
aplikasi dapat :
  • Mengalokasikan suatu layanan secara transparan pada jaringan,
  • Menyediakan interaksi dengan aplikasi atau layanan lain
  • Tidak tergantung dari layanan jaringan
  • Handal dan mampu memberikan suatu layanan
  • Diperluas (dikembangkan) kapasitasnya tanpa “Middleware” di samping pembangunan aplikasi adalah medan pertempuran untuk perjuangan yang besar dalam industri perkomputeran. Untuk menyatukan komponen yang berselerak, Microsoft mahu pengguna menggunakan teknologinya.

 


Sabtu, 27 Oktober 2012

Pendahuluan Telematika

. abstraksi

Telematika mempunyai peranan sangat penting dan strategis sebagai komponen infrastruktur untuk perkembangan ekonomi. Pelayanan telematika dapat menggantikan bentuk komunikasi lain dan seringkali lebih efektif penggunaannya baik dari segi biaya,waktu dan rantai distribusinya.
Telematika juga sangat penting dalam komunikasi maupu dalam pencarian informasi. Telematika juga berkembang  menjadi wacana multimedia. Sehingga masyarakat yang bergerak didunia multimedia sangat bergantung kepada telematika yang ada saat ini. Perkembangan ini memicu perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika menjadi semakin terpadu atau populer dengan istilah “konvergensi”. Semula Media masih belum menjadi bagian integral dari isu konvergensi teknologi informasi dan komunikasi pada saat itu.

2. Pendahuluan

2.1 Latar Belakang

Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika) saat ini sangat pesat sekali. Di berbagai bidang hampir membutuhkan teknolgi telekomunikasi dan informatika untuk mempermudah suatu pekerjaan yang berkaitan dalam dunia IT.
Dalam era globalisasi sekarang ini, komputer merupakan alat yang sangat dibutuhkan oleh banyak instansi dan perusahaan-perusahaan milik negara maupun swasta. Pemakaian komputer dewasa ini semakin berkembang pesat di segala bidang sesuai dengan kemajuan zaman. Sejalan dengan lajunya perkembangan dunia teknologi modern saat ini, mengakibatkan perubahan kehidupan manusia dalam menangani setiap permasalahan yang terjadi yang ada hubungannya dengan proses pembangunan secara menyeluruh.
Pada saat ini, komputer sudah memasuki hampir semua kehidupan masyarakat. Dunia pendidikan sangat terkait dengan komputerisasi. Dalam mendukung pembelajaran maupun dalam pengolahan data yang ada di lingkungan sekolah. Pembelajaran di lingkungan sekolah dapat dibantu dengan aplikasi-aplikasi yang dibangun mengenai pelajaran tersebut
Komputer memiliki peranan besar dalam bidang pendidikan khususnya dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga model pembelajaran yang klasikal, yaitu dengan menggunakan buku sebagai sumber belajar dirasa membosankan.

2.2  Batasan Masalah.

Dalam penulisan ini penulis hamya membahas tentang pengertian telematika, contoh-contoh atau bentuk-bentuk penerapan telematika, serta menjelaskan teknologi yang ada didalam telematika.

3. Landasan Teori

3.1 Teori / Konsep Telematika

Telematika dapat diartikan sebagai bertemunya sistem jaringan komunikasi dengan teknologi informasi. Para praktisi mengatakan bahwa telematika merupakan perpaduan dari dua kata yaitu dari “Telekomunikasi dan Informatika” yang merupakan perpaduan konsep Computing and Communication. Istilah telematika juga dikenal sebagai “the new hybrid technology” karena lahir dari perkembangan teknologi digital.

3.2 Pengertian Telematika

Telematika berasal dari bahasa perancis “Telematique” yang merujuk pada bertemunya sistem jaringan komunikasi dengan teknologi informasi.
Teknologi Informasi merujuk pada sarana prasarana, sistem dan metode untuk perolehan, pengiriman, penerimaan, pengolahan, penafsiran, penyimpanan, pengorganisasian, dan penggunaan data yang bermakna ( Miarso, 2007 ).
Pada praktisi menyatakan bahwa “Telematics“ adalah singkatan dari “Telecommunication” and “informatics” sebagai wujud dari perpaduan konsep Computing and Communication. Istilah Telematics juga dikenal sebagai “the new hybrid technology” yang lahir karena perkembangan teknologi digital. Perkembangan ini memicu perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika menjadi semakin terpadu ( konvergensi ). Semula media masih belum menjadi bagian integral dari isu konvergensi teknologi informasi komunikasi pada saat itu.
Belakangan baru disadari bahwa penggunaan sistem komputer dan sistem komunikasi ternyata juga menghindarkan media komunikasi baru. Lebih jauh lagi istilah Telematika kemudian merujuk pada perkembangan konvergensi antara telekomunikasi, media dan informatika yang semula masing-masing berkembang secara terpisah.
Konvergensi Telematika kemudian dipahami sebagai sistem elektronik berbasiskan teknologi digital atau “The Net”. Dalam perkembangannya istilah “media” dalam Telematika berkembang menjadi wacana “multimedia”. Hal ini sedikit membingungkan masyarakat, karena istilah “multimedia” semula hanya merujuk pada kemampuan sistem computer untuk mengolah informasi dalam berbagai medium. Adalah suatu ambigus jika istilah Telematika dipahami sebagai akronim Telekomunikasi, Multimedia dan Informatika
Menurut instruksi presiden RI no.6 tahun 2001 tentang kerangka kebijakan perkembangan dan pendayagunaan telematika di Indonesia didapat pengertian telematika sebagai berikut : “..Telekomunikasi, media dan informatika atau disingkat sebagai teknologi telematika…”.
Menurut Yusuf Hadi Miarso ( 2007 ) telematika merupakan sinergi teknologi telekomunikasi dan informatika untuk keperluan pemrosesan data dengan sistem binary ( digital ). Telekomunikasi adalah sistem hubungan jarak jauh yang terjalin melalui saluran kabel dan nirkabel ( gelombang suara, elektromagnetik, dan cahaya ). Sedangkan informatika adalah pengelolaan data yang bermakna dengan sistem binary ( digital ). Istilah Teknologi dan Komunikasi (ICT = Information and Communication Technology ) yang lebih dikenal sekarang ini bermaksud memperluas pengertian telematika.
Jadi , dapat disimpulkan bahwa Telematika merupakan konvergensi antara teknologi Telekomunikasi , Media dan Informatika yang digunakan untuk keperluan pemrosesan data dengan sistem binary / digital.

3.3 Fungsi Telematika

Selaras dengan pengertian telematika sebagai sarana komuikasi jarak jauh, maka fungsi dari telematika antara lain :
1. Penyampai informasi dimana Telematika digunakan sebagai penyampai informasi agar orang yang melakukan Komunikasi menjadi lebih berpengetahuan dari sebelumnya. Bertambahnya pengetahuan manusia akan meningkatan keterampilan hidup, menambah kecerdasan, meningkatkan kesadaran dan wawasan.
2. Sarana Kontak sosial hidup bermasyarakat. Interaksi sosial menimbulkan kebersamaan; keakraban, dan kesatuan yang akan melahirkan kerjasama. Telematika menjadi penghubung diantara peserta kerjasama tersebut, walaupun mereka tersebar dimana-mana. Telematika menjembatani proses interaksi sosial dan kerjasama sehingga menghasilkan jasa yang memiliki nilai tambah dibanding hasil perseorangan.

3.4 Aplikasi Telematika (WiFi)

Pengertian Wi-Fi
Wi-fi (atau Wi-fi,WiFi, Wifi, wifi) merupakan kependekan dari Wireless Fidelity, memiliki pengertian yaitu sekumpulan standar yang digunakan untuk Jaringan Lokal Nirkabel (Wireless Local Area Networks-WLAN) yang didasari pada spesifikasi IEEE 802.11. Standar terbaru dari spesifikasi 802.11a atau b, seperti 802.16 g, saat ini sedang dalam penyusunan, spesifikasi terbaru tersebut menawarkan banyak peningkatan mulai dari luas cakupan yang lebih jauh hingga kecepatan transfernya.
Awalnya Wi-Fi ditujukan untuk penggunaan perangkat nirkabel dan Jaringan Area Lokal (LAN), namun saat ini lebih banyak digunakan untuk mengakses internet. Hal ini memungkinan seseorang dengan komputer dengan kartu nirkabel (wireless card) atau personal digital assistant (PDA) untuk terhubung dengan internet dengan menggunakan titik akses (atau dikenal dengan hotspot) terdekat.

3.5 Teknologi dan Telematika

Pemanfaatan Teknologi di dalam Telematika khususnya di bidang Pendidikan

Menurut penulis terdapat sejumlah pilihan alternatif pemanfaatan di bidang pendidikan, yaitu :
1. Perpustakaan Elektronik
Perpustakaan yang biasanya arsip-arsip buku dengan di Bantu dengan teknologi informasi dan internet dapat dengan mudah mengubah konsep perpustakaan yang pasif menjadi agresif dalam berinteraksi dengan penggunanya. Homepage dari The Library of Congress merupakan salah satu perpustakaan yang terbesar di dunia. Saat ini sebagian informasi yang ada di perpustakaan itu dapat di akses melalui internet.
2. Surat Elektronik (email)
Dengan aplikasi sederhana seperti email maka seorang dosen, pengelola, orang tua dan mahasiswa dapat dengan mudah berhubungan. Dalam kegiatan di luar kampus mahasiswa yang menghadapi kesulitan dapat bertanya lewat email.
3. Ensiklopedia
Sebagian perusahan yang menjajakan ensiklopedia saat ini telah mulai bereksperimen menggunakan CD ROM untuk menampung ensiklopedia sehingga diharapkan ensiklopedia di masa mendatang tidak hanya berisi tulisan dan gambar saja, tapi juga video, audio, tulisan dan gambar, dan bahkan gerakan. Dan data informasi yang terkandung dalam ensklopedia juga telah mulai tersedia di internet. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka data dan informasi yang terkandung dalam ensiklopedi elektronik dapat diperbaharui.
4. Sistem Distribusi Bahan Secara Elektronis ( digital )
Dengan adanya sistem ini maka keterlambatan serta kekurangan bahan belajar bagi warga belajar yang tinggal di daerah terpencil dapat teratasi. Bagi para guru SD yang mengikuti penyetaraan D2, sarana untuk mengakses program ini tdk menjadi masalah karena mereka dapat menggunakan fasilitas yang dimiliki kantor pos yang menyediakan jasa internet.
5. Tele-edukasi dan Latihan Jarak Jauh dalam Cyber System
Pendidikan dan pelatihan jarak jauh diperlukan untuk memudahkan akses serta pertukaran data, pengalaman dan sumber daya dalam rangka peningkatan mutu dan keterampilan professional dari SDM di Indonesia. Pada gilirannya jaringan ini diharapkan dapat menjangkau serta dapat memobilisasikan potensi masyarakat yang lain, termasuk dalam usaha, dalam rangka pembangunan serta kelangsungan kehidupan ekonomi di Indonesia, baik yang bersifat pendidikan formal maupun nonformal dalam suatu “cyber system”.
6. Pengelolaan Sistem Informasi
Ilmu pengetahuan tersimpan dalam berbagai bentuk dokumen yang sebagian besar tercetak dalam bentuk buku, makalah atau laporan informasi semacam ini kecuali sukar untuk diakses, juga memerlukan tempat penyimpanan yang luas. Beberapa informasi telah disimpan dalam bentuk disket atau CD ROM, namun perlu dikembangkan lebih lanjut sistem agar informasi itu mudah dikomunikasikan. Mirip halnya dengan perpustakaan elektronik, informasi ini sifatnya lebih dinamik (karena memuat hal-hal yang mutakhir) dapat dikelola dalam suatu sistem.
7. Video Teleconference
Keberadaan teknologi ini memungkinkan siswa atau mahasiswa dari seluruh dunia untuk dapat berkenalan, saling mengenal bangsa di dunia. Teknologi ini dapat digunakan sebagai sarana diskusi, simulasi dan dapat digunakan untuk bermain peran pada kegiatan pembelajaran yang berfungsi menumbuhkan kepercayaan diri dan kerjasama yang bersifat sosial.
Banyak faktor yang mempengaruhi dilaksanakan atau tidaknya potensi teknologi telematika. Faktor utama, menurut Miarso (2004) adalah adanya komitmen politik dari para pengambil kebijakan dan ketersediaan para tenaga terampil.

4. Kesimpulan

Teknologi Informasi dan komunikasi banyak menciptakan trobosan baru dalam belajar, maka dari itu teknologi dan telematika itu penting bagi kita semua agar bisa mengakses berita dan informasi dari seluruh dunia
sumber :
[1.] http://supercumen.blogspot.com/2009/11/layanan-telematika-teknologi-telematika.html
[2.] http://wahyu-s.co.cc/?p=152
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Telematika
[4] http://ilmukomputer.com
[5] http://iyozdamnation.wordpress.com/tag/contoh-telematika/

Selasa, 05 Juni 2012

kontrol data semantik


Control Data Semantic
Sebuah alat yang penting bagi DBMS terpusat maupun terdistribusi, adalah kemampuan untuk mendukung kontrol dar i semantik data. (S emantik = makna dari bahasa, jika SQL maka: makna dari bahasa SQL).
Kontrol semantik data, umumnya terdiri dari (1) manajemen view, (2) control security, (3) kontrol semantik integritas .
Secara informal: Sis tem harus menjamin bahwa user yang berhak (author ized) akan melakukan operasi yang benar (correct) terhadap database, untuk menjaga integritas database.
Manajemen View
Salah satu keuntungan dari model relasional adalah: ia memberikan independensi data sepenuhnya secara logikal. Skema external akan mengijinkan user untuk memiliki view ter tentu dar i database.
Dalam sistem relasional, sebuah view adalah sebuah relasivir tual.
Definisi view: hasil (result) dari sebuah kueri terhadap relasi- relasi dasar (atau relasi real). Hasil (view) ini tidak disimpan dalam database seperti relasi dasar. Sebuah view adalah sebuah jendela dinamik, dalam artian bahwa ia mencerminkan semua update yang dilakukan terhadap database. Disamping pemakaiannya di dalam skema external, view juga berguna untuk menjamin data- security dengan cara yang sederhana. Dengan memilih subset dari database, view dapat menyembunyikan beberapa data.
Jika user mengakses database melalui view, mereka tak dapat melihat atau memanipulas i hidden-data; dengan demikian data akan menjadi secure.
Perhatikan bahwa, dalam sistem DBMS terdistribusi, sebuah view dapat diturunkan dari relasi- relasi terdistribusi. Akses ke sebuah view akan memer lukan eksekusi dari kueri terdistribusi yang berhubungan dengan definisi view ter sebut.
Isu penting dalam DBMS terdistribusi adalah untuk membuat materialisasi view dengan cara yang efisien. Kita akan melihat bagaimana konsep snapshot akan membantu dalam memecahkan masalah ini, tapi ter lebih dulu kita akan berkonsentrasi pada DBMS terpusat.
View dalam DBMS Terpusat
Dalam konteks ini, sebuah view adalah sebuah relasi yang diturunkan dari relasi relasi dasar , sebagai hasil dari sebuah kueri relasional.
View didefinis ikan dengan meng-asosiasikan nama dari view dengan query retrieval
(pengambilan data):
Contoh A :
View dari system-analyst (S YS AN) yang diturunkan dari relasi EMP(ENO, ENAME,
TITLE), dapat didefinisikan sebagai berikut dalam kueri SQL:
CREATE VIEW SYSAN(ENO, ENAME)
AS SELECT ENO, ENAME
FROM EMP
WHERE TITLE = “Syst. Anal.”
SYSAN
ENO
ENAME
E2
M.Smith
E5
B.Casey
E8
J.Jones
Tabel Relasi yang berhubungan dengan View SYSAN.
Dengan adanya view, maka yang akan disimpan adalah definisi view di dalam katalog. Dengan demikian, hasil dari kueri yang mendefinisikan view tersebut TIDAK akan diproduksi.
Meskipun demikian, view SYSAN dapat dimanipulasi sebagai sebuah relasi dasar .
Contoh B :
Kueri :
“Carilah nama-nama dari semua system-analyst dengan nomor proyek mereka serta pertanggungjawabannya.” akan melibatkan view SYSAN dan relasi ASG(ENO, PNO, RESP,DUR).
Dapat dinyatakan sebagai:
SELECT ENAME, PNO, RESP
FROM SYSAN, ASG
WHERE SYSAN.ENO = ASG.ENO
Dengan teknik ini:
Ø variabel-variabel diubah untuk dieksekusi terhadap relasi- relasi dasar ,
Ø dan kualifikasi kueri digabungkan (AND) dengan kualifikasi view.
ENO
ENAME
TITLE
E1
J. Doe
Elect.Eng.
E2
L. Chu
Elect.Eng.
Tabel. Hasil dari kueri terhadap view ENAME
Update melalui View
View dapat didefinisikan memakai kueri relas ional kompleks sembarang, yang melibatkan: selection, projection, join, aggregate- function, dan lain- lain.
Update melalui view dapat ditangani secara otomatis , hanya jika update terhadap view tersebut dapat dipindahkan menjadi update terhadap relasi dasar secara benar .
Kita dapat mengklasifikasikan view sebagai updatable dan not-updatable. Sebuah view adalah updatable, hanya jika update yang diterapkan terhadap view dapat dipindahkan menjadi update terhadap relasi dasar tanpa ambiguitas .
View SYSAN di atas adalah updatable. Sebagai contoh :
[ insertion dar i sys tem-analys t baru < 201, Smith> ]
akan dapat dipetakan menjadi
[ insertion pegawai baru < 201, Smith, S ys t. Anal.> ]
View berikut adalah not-updatable:
CREATE VIEW EG(ENAME, RESP)
AS SELECT ENAME, RESP
FROM EMP, ASG
WHERE EMP.ENO = ASG.ENO
Sebagai contoh, operasi delete dari tuple < Smith, Analys t> tidak dapat dipindahkan, karena akan menimbulkan ambiguitas .
Relasi yang berhubungan dengan view EG:
EG
ENAME
R E S P
J. Doe
Manager
M. Smith
Analys t
M. Smith
Analys t
A. Lee
Consultant
A. Lee
Engineer
J. Miller
Programmer
B. Casey
Manager
L. Chu
Manager
R. Davis
Engineer
J. Jones
Manager
Deletion terhadap M. Smith dalam relasi EMP (atribut EMP.ENAME) akan menimbulkan ambuguitas , karena ada dua tuple dalam view.
Demikian juga, deletion terhadap Analyst dalam relasi ASG (atribut ASG.RESP) akan menimbulkan ambiguitas .
Sistem yang ada sekarang, sangat restriktif dalam mendukung update melalui view.
View dapat di-update hanya jika mereka diturunkan dari sebuah relasi tunggal melalui selection atau projection.
Sistem akan menghindari view yang didefinisikan oleh join, aggregate-function, dan lainnya.
(Catatan: view yang diturunkan oleh join, dapat disebut updatable j ika mereka
mencakup key dar i relas i dasar .)
View dalam DBMS Terdistribusi
Definisi view dalam sistem terdistribusi sama dengan definisi view dalam system terpusat. Sebagai tambahan, view dalam sistem terdistribusi dapat diturunkan dari relasi-relasi terfragmentasi yang disimpan pada berbagai lokasi yang berbeda.
Ketika sebuah view didefinisikan, maka nama dan kueri retrieval akan disimpan di
dalam katalog.
Tergantung kepada derajad otonomi dari lokasi yang ditawarkan oleh sistem, maka definisi view dapat dipusatkan dalam satu lokasi, direplikasi secara parsial, atau sepenuhnya direplikasi.
Dalam setiap kasus , informasi yang menghubungkan nama dari view dengan lokasi penyimpan definisinya, harus direplikasi. Jika definisi view tidak ada pada lokasi di mana kueri diawali, maka akan diperlukan remote-access ke lokasi penyimpan definesi view.
Pemetaan dari kueri yang diekspresikan terhadap view menjadi kueri yang diekspresikan terhadap relasi dasar , (yang bisa dalam bentuk terfragmentasi), akan dapat juga dilakukan dengan cara yang sama seperti dalam sistem terpusat, yaitu melalui modifikasi kueri.
Dengan teknik ini, kualifikasi yang mendefinisikan view akan ditemukan dalam katalog database terdistribusi, dan kemudian akan digabungkan dengan kueri, untuk menghasilkan kueri terhadap relasi dasar .
Kueri ini merupakan kueri terdistribusi, yang dapat diproses oleh query-processor terdistribusi Sehingga guery-processor akan melakukan pemetaan dari kueri terdistribusi menjadi kueri terhadap fragmen-fragmen fisik.
Pada kenyataannya, definisi fragmentasi, sangat mirip dengan definisi view. Sebagai
contoh, view SYSAN (Contoh A.) dapat diimplementasikan oleh sebuah fragmen dalam lokasi tertentu. Di mana kebanyakan user mengakses view SYSAN pada lokasi tersebut.
View yang diturunkan dari relasi-relasi terdistribusi, dapat mengakibatkan biaya tinggi ketika dievaluasi. Karena dalam sebuah organisasi tertentu akan banyak user yang mengakses view yang sama, maka beberapa proposal telah dibuat untuk mengoptimisasi penurunan view.
Sebuah solusi alternatif disusun dalam [Adiba and Lindsay, 1980] untuk menghindari penurunan view dengan mempertahankan versi aktual (sebenarnya) dari view, yang
disebut snaps hot .
Sebuah snapshot menyatakan keadaan (state) tertentu dari database. Snapshot bersifat statik, artinya ia tidak merefleksikan update yang dilakukan terhadap relasi dasar .
Snapshot berguna ketika user tidak tertarik secara khusus untuk melihat versi terbaru dari database.
Snapshot diatur sebagai relasi-relasi temporer, dalam arti bahwa mereka hanya memiliki metode akses dengan cara sequential- scanning.
Dengan demikian, sebuah kueri yang diekspresikan terhadap sebuah snapshot, tidak akan memanfaatkan indeks-indeks yang tersedia untuk relasi dasar (snapshot diturunkan dari relasi dasar ini).
Akses melalui snapshot nampaknya lebih cocok untuk kueri-kueri yang memiliki seleksi yang buruk dan akan melakukan scan terhadap keseluruhan snapshot.
Dalam hal ini, sebuah snapshot akan ber tindak seperti sebuah jawaban terhadap kueri yang telah didefinisikan terlebih dulu (predefined).
Snapshot akan perlu direkalkulasi secara periodik. Hal ini dapat dilakukan ketika sistem sedang idle (berhenti sementara). Sebagai tambahan, untuk snapshot yang diturunkan dari selection dan projection, hanya difference yang perlu untuk direkalkulasi [Blakeley etal., 1986].
TRANSPARANSI PADA DDBMS
Merupakan pemisahan dari semantic level tingkat tinggi dari implementasi level rendah. Atau sistem transparansi menyembunyikan rincian implementasi dari user.
dbt1
Tidak mudah dalam menggambarkan tingkat transparansi yang jelas. Dengan adanya transparansi bahasa sebagai lapisan generik, membuat user memiliki akses terhadap data bertingkat tinggi (4th GL, GUI, akses bahasa natural, dll). Bentuk2 transparansi
Data independence Kebebasan data menjadi bentuk dasar transparansi yang terlihat di DBMS. Kebebasan data berarti kekebalan dari aplikasi user untuk mengubah definisi dan organisasi data dan sebaliknya. Definisi data dapat terjadi dalam 2 tahap. Pada satu level, struktur logika dari data dispesifikasikan (schema definition) dan pada level yang lain struktur fisik dari data didefinisikan (physical data description). Ada 2 tipe kebebasan data 1. Kebebasan data secara logic : kekebalan aplikasi user untuk mengubah struktur logika database. Secara umum, jika aplikasi user dioperasikan pada sebuah subset atribut relasi, tidak ada pengaruh yang terjadi jika atribut baru ditambahkan ke relasi yang sama. 2. Kebebasan data secara fisik : berhubungan dengan penyembunyian rincian struktur penyimpanan dari aplikasi user. Saat aplikasi user ditulis, rincian dari  organisasi data secara fisik tidak perlu diperhatikan. Organisasi data apa pun dapat dipakai.
Transparansi jaringan/ terdistribusi Dalam sistem terpusat, hanya satu sumber yang dipelihara user yaitu data (sistem penyimpanan). Dalam manajemen DB terdistribusi, ada sumber kedua yagn perlu dipelihara yaitu jaringan. User perlu dilindungi dari detail operasi jaringan. Tidak perlu ada perbedaan antara aplikasi database yang berjalan di DB terpusat dan DB terdistribusi. Akan baik jika memiliki keseragaman dalam operasi yang diakses. Jika ingin mengkopi sebuah file, perintah yang digunakan seharusnya sama untuk pengkopian dalam satu mesin atau antar mesin yang terhubung dengan jaringan. Sayangnya banyak OS untuk jaringan yang belum menyediakan transparansi ini. cp ; satu mesin rcp ; mesin berbeda Transparansi lokasi merupakan transparansi terhadap perintah yang bebas digunakan pada lokasi data maupun pada sistem dimana operasi berjalan. Transparansi penamaan (naming tranparancy) berarti nama yang unik diberikan ke setiap objek database. Caranya dengan menambahkan nama lokasi (identifier) sebagai bagian dari nama objek. Sistem yang bertanggungjawab memberikan penamaan terhadap objek agar menjadi unik.
Transparansi replikasi Data yang mudah diakses oleh user dapat ditempatkan pada mesin local user seperti mesin user lain dengan akses data yang sama. Jika satu mesin gagal, salinan data masih ada pada lokasi mesin yang lain dalam jaringan. Keputusan direplikasikan atau tidak, dan berapa banyak salinan dari objek database, bergantung pada tingkatan aplikasi user. Tetapi replikasi menyebabkan masalah dalam meng-update DB. Jika apllikasi user berorientasi pada update, sebaiknya tidak perlu ada banyak salinan data.
Transparansi fragmentasi Fragmentasi dapat mengurangi efek negatif dari repllikasi. Setiap salinan tidak merupakan salinan penuh tetapi hanya sebuah subset, jadi ruang yang dibutuhkan lebih sedikit dan item data lebih sedikit untuk dipelihara. Saat objek DB difragment, masalah menangani queri user timbul. Masalah menangani strategi memproses queri berdasarkan fragment dibandingkan relasi meskipun query dibuat kemudian. Bentuk translasi ini disebut sebagai query global ke beberapa query fragment.
Siapa yang menyediakan transparansi Penyediaan transparansi perlu melihat lapisan transparansi. Ada 3 lapisan transparansi yang berbeda yang dapat saling menguntungkan secara eksklusif dalam penyediaan service meskipun lebih sesuai untuk ditinjau sebagai tambahan. Tanggungjawab dalam menyediakan akses data yang transparan  adalah akses lapisan. Transparansi dimulai dari transparansi bahasa yang menterjemahkan service yang diminta ke operasi yang dibutuhkan. Compiler atau interpreter mengambil alih tugas dan tidak ada service transparan disediakan untuk compiler atau interpreter. Lapis kedua adalah transparansi di level sistem operasi. Penyediaan akses transparan ke sumber daya di level OS diperluas ke distribusi, dimana manajemen jaringan diambil alih oleh OS terdistribusi. Sayangnya tidak semua OS memiliki manajemen jaringan ini. Lapis ketiga ada pada DBMS. DBMS bertindak sebagai operasi yang terintegrasi dan sistem manajemen DB. Yang khas adalah pembuatan DBMS pada komputer generalpurpose yang berjalan di beberapa OS. Pada lingkungan ini, transparansi dan dukungan fungsi DB yang disediakan untuk perancang DBMS sangat minimal dan khas ke operasi dasar untuk menjalankan tugas khusus. DBMS bertanggungjawab untuk membuat semua translasi yang berarti dari OS ke interface user yang lebih tinggi.







Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 1
P ROGR AM S T UDI I LMU KOMPUT ER
FMI P A - U niver s itas Sanat a Dharma
S is tem Bas is Dat a T er dis t r ibus i
MODU L 8 Semant ic Dat a Cont r ol
Disusun oleh : S r i Har tati Wijono, S .S i. & A. Rita Widiar ti, S .S i.
S ebuah alat yang penting bagi DBMS terpusat maupun terdis tr ibus i, adalah
kemampuan untuk mendukung kontrol dar i semantik data. (S emantik = makna dar i
bahasa, j ika SQL maka: makna dar i bahas a SQL).
Kontrol semantik data, umumnya terdiri dari (1) manajemen view, (2) kontrol
secur ity, (3) kontrol semantik integr itas .
S ecara informal: S is tem harus menjamin bahwa user yang berhak (author ized) akan
melakukan operas i yang benar (cor rect) terhadap database, untuk menjaga integr itas
database.
Dalam modul ini, kita akan membahas solus i ter pusat bagi kontrol semantik data,
ser ta adanya beberapa masalah di dalam lingkungan terdis tr ibus i ser ta pemecahan
masalah ter sebut.
Dalam modul ini, kita menekankan pembahasan pada dampak dari manajemen
direktor i terhadap per formance dar i mekanisme kontrol semantik data.
8 .1 . Manajemen View
S alah satu keuntungan dar i model relas ional adalah: ia member ikan independens i
data sepenuhnya secara logikal. S kema external akan mengij inkan user untuk
memiliki view ter tentu dar i database.
Dalam s is tem relas ional, sebuah view adalah sebuah relas i vir tual.
Definis i view: has il (result) dar i sebuah kuer i terhadap relas i- relas i dasar (atau relas i
real). Has il (view) ini tidak dis impan dalam databas e seper ti relas i dasar .
S ebuah view adalah sebuah jendela dinamik, dalam ar tian bahwa ia mencerminkan
semua update yang dilakukan terhadap database.
Disamping pemakaiannya di dalam s kema external, view juga berguna untuk
menjamin data- secur ity dengan cara yang sederhana. Dengan memilih subset dar i
database, view dapat menyembunyikan beberapa data.
Jika user mengakses database melalui view, mereka tak dapat melihat atau
memanipulas i hidden-data; dengan demikian data akan menjadi secure.
Perhatikan bahwa, dalam s is tem DBMS terdistribusi, sebuah view dapat diturunkan
dar i relas i- relas i terdis tr ibus i. Akses ke sebuah view akan memer lukan eksekus i dar i
kuer i terdis tr ibus i yang berhubungan dengan definis i view ter sebut.
I su penting dalam DBMS terdistribusi adalah untuk membuat mater ialisas i view
dengan cara yang efis ien. Kita akan melihat bagaimana konsep snapshot akan
membantu dalam memecahkan masalah ini, tapi ter lebih dulu kita akan
berkonsentras i pada DBMS terpusat.
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 2
8 .1 .1 . View dalam DBMS T erpusat
Dalam konteks ini, sebuah view adalah sebuah relas i yang diturunkan dar i relas irelas
i dasar , sebagai has il dar i sebuah kuer i relas ional.
View didefinis ikan dengan meng-asos ias ikan nama dar i view dengan query retr ieval
(pengambilan data):
Contoh 8.1.
View dar i s ys tem-analys t (S YS AN) yang diturunkan dar i relas i EMP(ENO, ENAME,
T I T LE), dapat didefinis ikan sebagai ber ikut dalam kuer i SQL:
CREATE VIEW SYSAN(ENO, ENAME)
AS SELECT ENO, ENAME
FROM EMP
WHERE TITLE = "Syst. Anal."
S YSAN
ENO ENAME
E2 M.Smith
E5 B.Casey
E8 J.Jones
Gambar 8.1. Relas i yang berhubungan dengan View S YSAN.
Dengan adanya view, maka yang akan dis impan adalah definis i view di dalam
katalog. Dengan demikian, has il dar i kuer i yang mendefinis ikan view ter sebut T I DAK
akan diproduks i.
Mes kipun demikian, view S YS AN dapat dimanipulas i sebagai sebuah relas i dasar .
Contoh 8.2.
Kuer i :
"Car ilah nama-nama dar i semua sys tem-analys t dengan nomor proyek mereka
ser ta per tanggungjawabannya."
akan melibatkan view S YS AN dan relas i ASG(ENO, PNO, RES P, DUR).
Dapat dinyatakan sebagai:
SELECT ENAME, PNO, RESP
FROM SYSAN, ASG
WHERE SYSAN.ENO = ASG.ENO
Dengan teknik ini:
Ø var iabel-var iabel diubah untuk dieksekus i terhadap relas i- relas i dasar ,
Ø dan kualifikas i kuer i digabungkan (AND) dengan kualifikas i view.
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 3
Contoh 8.3.
Kuer i dalam contoh 8.2. dapat dimodifikas i menjadi:
SELECT ENAME, PNO, RESP
FROM EMP, ASG
WHERE EMP.ENO = ASG.ENO
AND TITLE = "Syst. Anal."
Has il dar i kuer i ini dilukis kan dalam Gambar 8.2.
ENAME PNO R E S P
M.Smith P1 Analys t
M.Smith P2 Analys t
B.Casey P3 Manager
J.Jones P4 Manager
Gambar 8.2. Has il dar i kuer i yang melibatkan View S YSAN
Kuer i termodifikas i pada contoh 8.3. akan diekspres ikan terhadap relas i- relas i dasar ,
sehingga dapat diproses oleh query-proces sor .
Penting untuk memperhatikan, bahwa view-proces s ing dapat dilakukan pada saat
compile- time.
Mekanisme view dapat juga dipakai untuk melakukan penghalusan (refine) terhadap
kontrol akses dengan tujuan untuk mencakup s ubset dar i object. Untuk menentukan
setiap user dengan hidden-data ter tentu, maka dipakai keyword US ER, untuk
mengacu identifier dar i user pada saat log-on.
Contoh 8.4.
View ES AME akan membatas i akses dar i setiap user hanya ke data pegawai yang
memiliki jabatan (T I T LE) yang sama.
CREATE VIEW ESAME
AS SELECT *
FROM EMP E1, EMP E2
WHERE E1.TITLE = E2.TITLE
AND E1.ENO = USER
S ebagai contoh, kuer i ber ikut ini akan dilakukan oleh user J. Doe:
SELECT *
FROM ESAME
akan menghas ilkan relas i dalam Gambar 8.3. Perhatikan bahwa, user J. Doe j uga
muncul dalam has il ter sebut. Jika user yang membuat ESAME adalah seorang
electr ical-engineer , seper ti dalam contoh ini, maka view akan menyatakan set dar i
semua electr ical-engineer .
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 4
ENO ENAME T I T L E
E1 J. Doe Elect. Eng.
E2 L. Chu Elect. Eng.
Gambar 8.3. Has il dar i kuer i terhadap view ESAME
8 .1 .2 . Update melalui View
View dapat didefinis ikan memakai kueri relas ional kompleks sembarang, yang
melibatkan: selection, projection, join, aggregate- function, dan lain- lain.
Update melalui view dapat ditangani secara otomatis , hanya j ika update terhadap
view ter sebut dapat dipindahkan menjadi update terhadap relas i dasar secar a benar .
Kita dapat mengklas ifikas ikan view sebagai updatable dan not-updatable. S ebuah
view adalah updatable, hanya j ika update yang diterapkan terhadap view dapat
dipindahkan menjadi update terhadap relas i dasar tanpa ambiguitas .
View S YS AN di atas adalah updatable. S ebagai contoh :
[ inser tion dar i sys tem-analys t baru < 201, Smith> ]
akan dapat dipetakan menjadi
[ inser tion pegawai baru < 201, Smith, S ys t. Anal.> ]
View ber ikut adalah not-updatable:
CREATE VIEW EG(ENAME, RESP)
AS SELECT ENAME, RESP
FROM EMP, ASG
WHERE EMP.ENO = ASG.ENO
S ebagai contoh, operas i delete dar i tuple < Smith, Analys t> tidak dapat dipindahkan,
karena akan menimbulkan ambiguitas .
Relas i yang berhubungan dengan view EG:
EG
ENAME R E S P
J. Doe Manager
M. Smith Analys t
M. Smith Analys t
A. Lee Consultant
A. Lee Engineer
J. Miller Programmer
B. Casey Manager
L. Chu Manager
R. Davis Engineer
J. Jones Manager
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 5
Deletion terhadap M. Smith dalam relas i EMP (atr ibut EMP.ENAME) akan menimbulkan
ambuguitas , karena ada dua tuple dalam view.
Demikian juga, deletion terhadap Analys t dalam relas i AS G (atr ibut ASG.RES P) akan
menimbulkan ambiguitas .
S is tem yang ada sekarang, sangat res tr iktif dalam mendukung update melalui view.
View dapat di-update hanya j ika mereka diturunkan dar i sebuah relas i tunggal melalui
selection atau projection.
S is tem akan menghindar i view yang didefinis ikan oleh join, aggregate- function, dan
lainnya.
(Catatan: view yang diturunkan oleh join, dapat disebut updatable j ika mereka
mencakup key dar i relas i dasar .)
8 .1 .3 . View dalam DBMS T erdist r ibus i
Definis i view dalam s is tem terdis tr ibus i sama dengan definis i view dalam s is tem
terpusat. S ebagai tambahan, view dalam s is tem terdis tr ibus i dapat diturunkan dar i
relas i- relas i ter fragmentas i yang dis impan pada berbagai lokas i yang berbeda.
Ketika sebuah view didefinis ikan, maka nama dan kuer i retr ieval akan dis impan di
dalam katalog.
T ergantung kepada derajad otonomi dar i lokas i yang ditawar kan oleh s is tem, maka
definis i view dapat dipusatkan dalam satu lokas i, direplikas i secara par s ial, atau
sepenuhnya direplikas i.
Dalam setiap kas us , informas i yang menghubungkan nama dar i view dengan lokas i
penyimpan definis inya, harus direplikas i. Jika definis i view tidak ada pada lokas i di
mana kuer i diawali, maka akan diper lukan remote-acces s ke lokas i penyimpan definis i
view.
Pemetaan dari kueri yang diekspres ikan terhadap view menjadi kueri yang
diekspres ikan terhadap relas i dasar , (yang bis a dalam bentuk ter fragmentas i), akan
dapat juga dilakukan dengan cara yang sama seper ti dalam s is tem terpusat, yaitu
melalui modifikas i kuer i.
Dengan teknik ini, kualifikas i yang mendefinis ikan view akan ditemukan dalam
katalog databas e terdis tr ibus i, dan kemudian akan digabungkan dengan kuer i, untuk
menghas ilkan kuer i terhadap relas i dasar .
Kuer i ini merupakan kuer i terdis tr ibus i, yang dapat diproses oleh query-proces sor
terdis tr ibusi S ehingga guery-proces sor akan melakukan pemetaan dari kuer i
terdis tr ibus i menjadi kuer i terhadap fragmen- fragmen fis ik.
Pada kenyataannya, definis i fragmentas i, sangat mir ip dengan definis i view. S ebagai
contoh, view S YS AN (Contoh 8.1.) dapat diimplementas ikan oleh sebuah fragmen
dalam lokas i ter tentu. Di mana kebanyakan user mengakses view S YS AN pada lokas i
ter sebut.
View yang diturunkan dar i relas i- relas i terdis tr ibus i, dapat mengakibatkan biaya tinggi
ketika dievaluas i. Karena dalam sebuah organisas i ter tentu akan banyak user yang
mengakses view yang sama, maka beberapa proposal telah dibuat untuk mengoptimisas
i penurunan view.
S ebuah solus i alternatif disusun dalam [Adiba and Lindsay, 1980] untuk menghindar i
penurunan view dengan memper tahankan ver s i aktual (sebenarnya) dar i view, yang
disebut s naps hot .
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 6
S ebuah snapshot menyatakan keadaan (s tate) ter tentu dari database. S napshot
ber s ifat s tatik, ar tinya ia tidak merefleks ikan update yang dilakukan terhadap relas i
dasar .
S napshot berguna ketika user tidak ter tar ik secara khus us untuk melihat ver s i
terbaru dar i database.
S napshot diatur sebagai relas i- relas i temporer, dalam ar ti bahwa mereka hanya
memiliki metode akses dengan car a sequential- scanning.
Dengan demikian, sebuah kuer i yang diekspres ikan terhadap sebuah snapshot, tidak
akan memanfaatkan indeks - indeks yang ter sedia untuk relasi dasar (snapshot
diturunkan dar i relas i dasar ini).
Akses melalui snapshot nampaknya lebih cocok untuk kuer i - kuer i yang memiliki
seleks i yang buruk dan akan melakukan scan terhadap keseluruhan snapshot.
Dalam hal ini, sebuah snapshot akan ber tindak seper ti sebuah jawaban terhadap
kuer i yang telah didefinis ikan ter lebih dulu (predefined).
S napshot akan per lu direkalkulas i secara per iodik. Hal ini dapat dilakukan ketika
s is tem sedang idle (berhenti sementara). S ebagai tambahan, untuk snapshot yang
diturunkan dari selection dan projection, hanya difference yang per lu untuk
direkalkulas i [Blakeley et al., 1986].
8 .2 . Data-secur it y
Data- secur ity merupakan fungs i penting dar i s is tem bas is data yang melindungi data
dari akses unauthor ized (yang tidak ter -otor isas i). Data- secur ity mencakup dua
aspek: data-protection dan author ization-control.
Data-protection diper lukan untuk mencegah unauthor ized-user mengetahui is i fis ik
dar i data. Fungs i ini umumnya disediakan oleh s is tem file dalam konteks sis tem
operas i terpusat maupun terdis tr ibus i.
Pendekatan utama data-protection adalah melakukan enkr ips i data. Enkr ips i akan
berguna, baik untuk informas i yang dis impan dalam dis k, maupun untuk per tukaran
informas i lintas jar ingan.
Data terenkr ips i (encoded, encrypted) dapat di-dekr ips i (decoded, decrypted) hanya
oleh author ized-user (yang mengetahui kode-nya).
Dua s kema utama adalah:
Ø DES (Data Encr yption S tandard).
Ø Public- key encryption.
Dalam bab ini, kita akan berkonsentras i pada aspek kedua dar i data- secur ity, yaitu
author ization-control.
Author ization-control harus menjamin: hanya author ized-user yang dapat melakukan
operas i yang diij inkan terhadap bas is data.
DBMS , baik terpusat maupun terdis tr ibus i, harus menerapkan batasan akses oleh
user terhadap database.
Dalam s is tem file, author ization-control disediakan oleh s is tem operas i terdis tr ibus i
sebagai service dari s is tem file. Dalam konteks ini, akan dilakukan oleh sebuah
kontrol terpusat. Kontroler pusat akan membuat object, dan user ter tentu akan
diij inkan melakukan operas i read, wr ite, execute terhadap object ini. Object akan
diidentifikas i dengan memakai nama external-nya.
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 7
Author ization-control dalam s is tem databas e berbeda dengan yang di dalam s is tem
file, dalam beberapa aspek. Otor isas i harus diperhalus , sehingga user yang berbeda
akan memiliki hak yang berbeda terhadap object databas e yang sama.
Kebutuhan ini akan berakibat dalam:
Ø kemampuan menentukan object secara lebih tepat, tidak hanya sekedar
melalui nama.
Ø dapat membedakan kelompok-kelompok user .
Dalam s is tem terdis tr ibus i, penting untuk melakukan desent r alisas i terhadap
author ization-control.
8 .2 .1 . Aut hor izat ion-cont r ol T er pusat
T iga aktor utama yang ter libat dalam author ization-control:
Ø User yang memicu eksekus i program aplikas i.
Ø Operas i, yang berada dalam program aplikas i.
Ø Object database, yang merupakan sasaran operas i.
Author ization-control berupa: mekanisme checking apakah tr iple (user, operas i,
object) ter tentu dapat diij inkan untuk terus . Yaitu, apakah user boleh mengeksekus i
operas i terhadap object.
S ebuah otor isas i dapat dipandang sebagai tiga hal:
Ø User .
Ø T ipe operas i.
Ø Definis i object database.
Otor isas i merupakan proses yang menetapkan: apakah user memiliki hak untuk
melakukan tipe operas i ter tentu terhadap sebuah definis i object database.
Untuk mengontrol otor isas i, DBMS akan memer lukan data berupa: user , object, dan
hak (r ight).
U ser
I dentifikas i user (orang atau grup) umumnya dilakukan oleh s is tem dalam bentuk
sepasang data (user -name dan pas sword). Pas sword akan merupakan authentication
bagi user .
Kedua data ter sebut (nama dan pas sword) harus tersedia untuk melakukan log- in ke
dalam s is tem. Hal ini akan mencegah orang yang tidak mengetahui pas sword untuk
mengakses s is tem dengan hanya memakai nama user .
Object
Object untuk dilindungi merupakan subset dar i database.
Dalam sebuah s is tem file, individu yang diproteks i adalah file. S edangkan dalam
DBMS individu yang diproteks i adalah tipe dar i object (misalnya: record, file).
Dalam s is tem relas ional, object dapat didefinis ikan oleh :
Ø T ipe object (view, relas i, tuple, atr ibut), atau
Ø I s i dar i object, yang didapat memakai selection terhadap predikat ter tentu.
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 8
Mekanisme view dar i 8.1. akan mengij inkan proteks i object secara sederhana, yaitu
dengan menyembunyikan subset dari relasi (atr ibut atau tuple) terhadap
unauthor ized-user .
Hak / R ight
S ebuah hak (hak akses ), menyatakan hubungan antara user dengan object untuk set
operas i ter tentu.
Dalam DBMS relasional yang memakai SQL, operas i ini merupakan high- levels
tatement seper ti S ELECT , I NS ERT , UPDAT E, atau DELET E. Hak akses akan
didefinis ikan (diber ikan atau dibatalkan) memakai s tatement:
GRANT <operation type(s)> ON <object> TO <user(s)>
REVOKE <operation type(s)> FROM <object> TO <user(s)>
Untuk menyatakan semua user , dapat dipakai keyword public.
Author ization-control dapat dibedakan pada s iapa (grantor ) yang member ikan sebuah
hak (grant).
Ø Dalam bentuk paling sederhana, kontrol dilakukan terpusat: yaitu oleh s ingle-user
atau user -clas s sebagai adminis trator database, yang memiliki semua pr ivilege
terhadap semua object database. I a adalah satu- satunya yang diij inkan untuk
memakai s tatement GRANT dan REVOKE.
Ø Bentuk kontrol lain yang lebih kompleks , tapi lebih fleks ibel, adalah desentralisas i
kontrol. Pembuat object akan menjadi pemiliknya, dan memiliki semua pr ivilege di
atas object ter sebut.
Dalam hal ini, akan ada tipe operas i GRANT tambahan: Member ikan pr ivilege
GRANT , berar ti bahwa semua hak dar i sang pember i (grantor ) untuk melakukan
s tatement ter tentu, akan diber ikan kepada user ter tentu.
Dengan demikian, user yang mener ima hak, dapat kemudian member ikan
pr ivilege terhadap object yang dimilikinya kepada user lain. Misalnya, A
member ikan pr ivilege ter tentu kepada B, kemudian B akan member ikan pr ivelege
yang sama kepada C.
Kesulitan utama dari pendekatan ini adalah, proses revoke, harus dilakukan
rekur s if. Misalnya, A member ikan pr ivilege kepada B terhadap object O, kemudian
B member ikan pr ivelege yang sama kepada C. Kemudian, A ingin membatalkan
(revoke) semua pr ivilege yang telah diber ikan kepada B atas O. Maka semua
pr ivilege yang diber ikan oleh B kepada C atas O, juga harus dibatalkan. Untuk
melakukan revoke, maka s is tem harus membuat sebuah hirarki dar i grant per
object. S ebagai root dar i hirarki ini adalah creator (yaitu A).
Pr ivilege dar i subject terhadap object akan dis impan dalam katalog (direktor i) sebagai
author ization- rules (aturan-aturan otor isas i). Ada beberapa cara untuk menyimpan
otor isas i.
Pendekatan paling umum adalah dengan menganggap semua pr ivilege sebagai
sebuah matr iks otor isas i. Di mana, sebuah bar is akan mendefinis ikan subject, dan
kolom akan mendefinis ikan object. Entr i matr iks yang berupa pasangan < subject,
object> , akan merupakan otor isas i terhadap operas i.
Operas i otor isas i ditentukan oleh tipe operas inya (misal, S ELECT , UPDAT E). Bis a j uga
tipe operas i memakai predikat, yang kemudian akan membatas i akses ke object.
Predikat dipakai dalam kasus , di mana object harus berupa relas i dasar , dan tidak
dapat berupa view. S ebagai contoh, operas i otor isas i untuk pasangan < Jones , relas i
EMP> dapat berupa:
S ELECT WHERE T I T LE = "S yst. Anal."
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 9
yang akan melakukan otor isas i terhadap Jones , untuk hanya boleh mengakses tuple
pegawai untuk sys tem-analys t.
Gambar 8.4. menunjukkan contoh matr iks otor isas i, di mana object dapat berupa
relas i (EMP dan ASG) atau atr ibut (ENAME).
EMP ENAME ASG
Casey UPDAT E UPDAT E UPDAT E
Jones S ELECT S ELECT S ELECT
WHERE RES P ¹ "Manager "
Smit h NONE S ELECT NONE
(Bar is = subject ; kolom = object ; entr i = < subject, object> = otorisasi operas i)
Gambar 8.4. Contoh Matr iks Otor isas i.
8 .2 .2 . Aut hor izat ion-cont r ol T er dis t r ibus i
Dalam lingkungan terdis tr ibus i, mekanisme author ization-control dapat diturunkan
dar i mekanisme dalam s is tem terpusat. S eper ti dijelas kan sebelumnya, akan ada
tambahan kompleks itas , karena object dan user /subject dapat terdis tr ibus i.
Masalah-masalah baru yang muncul: otentifikas i terhadap remote-user , manajemen
dar i aturan otor isas i terdis tr ibus i, ser ta penanganan view dan penanganan grup user .
Otent if ikas i terhadap r emote-user diper lukan, karena setiap lokas i dalam DBMS
terdis tr ibus i dapat mener ima program awal, dan kemudian di-otor isas i pada remotes
ite.
Untuk mencegah remote-acces oleh unauthor ized-user , (misal, dar i lokas i yang bukan
bagian dar i DBMS terdistribusi), user harus juga diidentifikas i dan diotentifikas i pada
lokas i yang diakses nya.
Ada dua solus i:
1. I nformas i untuk user (user -name dan pas sword) direplikas i pada semua lokas i
yang ada dalam katalog. Program lokal, tetapi yang diawali pada remote- s ite,
juga harus menunjukkan user -name dan pas sword.
2. S emua lokas i dalam DBMS terdistribusi, melakukan identifikas i dan otentifikas i
terhadap lokas i- lokas i yang ada, dengan cara yang sama seper ti user . Dengan
demikian, komunikasi antar lokasi akan diproteksi dengan pemakaian s itepas
sword.
Misal, user akan mengakses lokas i B secara remote dar i lokas i A (lokal). Lokas i B
akan memandang user sebagai remote-user . Jika lokas i yang melakukan inis ias i
(A) telah diotentifikas i oleh lokas i B (remote), maka lokas i B tidak per lu lagi
melakukan otentifikas i terhadap user .
S olusi per tama lebih mahal biayanya, karena j ika ada user baru yang per lu
didaftarkan, maka user baru harus didaftarkan secara terdis tr ibus i. T etapi, dengan
solus i ini, semua user akan dapat mengakses database terdis tr ibus i dar i lokas i
manapun.
S olus i kedua tidak memer lukan replikas i informas i user. S olus i ini akan membuat
remote-authentification lebih efis ien. Jika user -name dan pas sword tidak direplikas i,
maka mereka hanya dis impan di dalam lokas i di mana user mengakses s is tem (yaitu
home- s ite). S olus i ini memakai asums i s tatik, yaitu mengasums ikan bahwa user
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 10
selalu mengakses dar i lokas i yang sama. Dengan demikian, kelemahannya adalah
user tidak dapat mengakses dar i sembarang lokas i.
Manajemen aturan otor isas i terdis t r ibus i:
Aturan-aturan otor isas i terdis tr ibus i dinyatakan dengan cara yang sama seper ti dalam
s is tem terpusat. Misalnya, definis i view harus dis impan di dalam katalog.
Ada dua kemungkinan penyimpanan aturan-aturan otor isas i ini:
Ø Direplikasi seluruhnya dalam setiap lokas i. Keuntungannya: otor isasi dapat
diproses dengan modifikas i kuer i pada saat compile- time. Kerugian: manajemen
direktor i/katalog akan lebih mahal biayanya, karena duplikas i data.
Ø Dis impan hanya pada lokas i- lokas i yang memer lukan referens i terhadap object.
Dengan kata lain, aturan hanya akan diduplikas i pada lokas i- lokas i di mana object
ter sebut terdis tr ibus i. Keuntungannya: Solus i ini akan lebih baik, j ika lokalitas
referens i sangat tinggi. Kerugiannya: otor isas i terdis tr ibus i tidak dapat dikontrol
pada saat compile- time (harus pada saat run- time).
8 .3 . Kont r ol S emant ik I ntegr itas
S atu masalah penting dan sulit dalam s is tem databas e adalah: menjamin kons is tens i
database.
Untuk memper tahankan kons is tens i database, memer lukan bermacam mekanisme
seper ti: kontrol concur rency, reliability, proteks i, dan kontrol semantik integr itas .
Kontrol semantik integr itas akan menjamin kons is tens i databas e dengan:
Ø Menolak update program, yang akan membawa databas e ke dalam keadaan
inkons is ten. Atau,
Ø Mengaktifkan aks i ter tentu, yang akan mengkompensas i efek dar i program
update terhadap database.
Databas e yang di-update harus memenuhi integr ity-cons traints .
8 .3 .1 . Kont r ol S emant ik I ntegr itas T erpusat
S ubs is tem semantik integr itas memiliki dua komponen utama:
Ø Bahasa untuk mengekspres ikan dan memanipulasi integr ity-as ser tion
(pernyataan integr itas ).
Ø Mekanisme as ser tion yang akan melakukan aks i ter tentu untuk memaksakan
integr itas databas e pada saat dilakukan update.
Kita dapat membedakan tiga tipe batasan integr itas : predefined, precompiled, atau
general.
Contoh-contoh untuk batasan integr itas di bawah, akan diber ikan untuk databas e
dengan s kema:
EMP(ENO, ENAME, T I T LE)
PROJ(PNO, PNAME, BUDGET )
ASG(ENO, PNO, RES P, DUR)
B atasan pr edef ined didasarkan kepada keyword sederhana. Ber ikut adalah contohcontoh
beberapa batasan dar i model relas ional, dengan memakai batasan predefined.
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 11
Contoh 8.5. Nonnull Atr ibute
Nomor pegawai (ENO) dalam relas i EMP tidak boleh null.
ENO NOT NULL IN EMP
Contoh 8.6. Unique Key
Pasangan (ENO, PNO) adalah unique- key dalam relas i ASG.
(ENO, PNO) UNIQUE IN ASG
Contoh 8.7. Foreign Key
Nomor proyek PNO dalam relas i AS G adalah foreign- key yang match dengan
pr imary- key PNO dalam relas i PROJ. Dengan kata lain, sebuah proyek yang
ada dalam relas i AS G harus ada di dalam relas i PROJ.
PNO IN ASG REFERENCES PNO IN PROJ
Contoh 8.8. Functional Dependency
Nomor pegawai ENO s ecar a fungs ional menentukan nama pegawai ENAME.
ENO IN EMP DETERMINES ENAME
B atasan pr ecompiled dapat dinyatakan dengan s tatement SQL: CHECK, ditambah
spes ifikas i tipe update. Untuk tipe update ter tentu: Batasan precompiled akan
menyatakan prakondis i yang harus dipenuhi oleh semua tuple di dalam relas i.
S yntax dar i s tatement CHECK:
CHECK ON <relation name> WHEN <update type>
( < qualification over relation name> )
Contoh batasan precompiled:
Contoh 8.9. Domain Cons traint
Budget dar i sebuah proyek ter letak antar a 500K dan 1000K.
CHECK ON PROJ (BUDGET ³ 500000 AND BUDGET £ 1000000)
Contoh 8.10. Domain Cons traint on Deletion
Hanya tuple yang budget-nya 0 boleh di-delete.
CHECK ON PROJ WHEN DELETE (BUDGET = 0)
Contoh 8.11. T rans ition Cons traint
Budget dar i sebuah proyek hanya boleh dinaikkan.
CHECK ON PROJ (NEW.BUDGET > OLD.BUDGET
AND NEW.PNO = OLD.PNO)
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 12
B atasan gener al adalah rumus - rumus kalkulus relas ional tuple, di mana semua
var iable dikuantifikas i. S is tem database harus menjamin bahwa semua rumus
ter sebut selalu benar .
Batasan general lebih r ingkas dar ipada batasan precompiled, karena dapat
melibatkan lebih dar i satu relas i.
S ebagai contoh, paling sedikit akan diper lukan tiga batasan precompiled untuk
menyatakan satu batasan general atas tiga relas i.
Batasan general dapat dinyatakan dengan s yntax ber ikut:
CHECK ON list of <variable name> : <relation name> ,
(<qualification>)
Contoh-contoh:
Contoh 8.12. Functional Dependency
Batasan dar i contoh 8.8. :
Nomor pegawai ENO s ecar a fungs ional menentukan nama pegawai ENAME.
dapat dinyatakan dengan:
CHECK ON e1:EMP, e2:EMP
(e1.ENAME = e2.ENAME IF e1.ENO = e2.ENO)
Contoh 8.13. Cons traints with Aggregate Function
Duras i total dar i semua pegawai dalam proyek CAD adalah kurang dar i 100.
CHECK ON g:ASG, j:PROJ (SUM(g.DUR WHERE g.PNO=j.PNO) <
100
IF j.PNAME = "CAD/CAM")
P ENE R APAN I NT EGR I T AS ( I NT EGR I T Y E NFOR CEMENT )
Penerapan semantik integr itas berupa: menolak program-program update yang
melanggar batasan-batasan integr itas .
S ebuah batasan dilanggar, j ika keadaan database yang baru yang dihas ilkan oleh
update menjadi false.
Dua metoda dasar untuk mengij inkan penolakan update yang inkons is ten:
Ø Berdasarkan pada deteks i inkons is tens i.
o Update u dieksekus i,
o Akan menyebabkan perubahan keadaan databas e dar i D menjadi Du.
o Algor itma penerapan batasan (cons traints enforcement), akan melakukan
ver ifikas i: dengan menerapkan tes yang diturunkan dar i batasan integr itas .
o T es dilakukan untuk mendeteks i, apakah semua batasan yang relevan
tetap ada di dalam keadaan Du.
o Jika keadaan Du inkons is ten, DBMS dapat mencoba salah satu dar i:
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 13
§ Mencapai keadaan kons is ten yang lain: D'u, dengan melakukan
modifikas i Du memakai compensating-action.
§ Mengembalikan keadaan D, dengan melakukan undo terhadap u.
(kembali ke keadaan awal)
o Karena tes ini dilakukan setelah keadaan databas e berubah, maka disebut:
pos ttes t.
o Pendekatan ini dapat menjadi tidak efis ien, j ika sej umlah besar update D
harus di-undo, dalam hal adanya kegagalan integr itas .
Ø Berdasarkan pada pencegahan (prevention) inkons is tens i.
o Update hanya akan dieksekus i, j ika ia mengubah database ke keadaan
kons is ten.
o T uple yang menjadi subyek update dapat: tersedia langs ung dalam
database (dalam I NS ERT ), atau harus diambil dari database (dalam
DELET E atau MODI FY).
o Algor itma penerapan akan melakukan ver ifikas i: apakah semua batasan
yang relevan akan tetap ada setelah update terhadap tuple.
o Hal ini dilakukan dengan menerapkan tes kepada tuple. T es diturunkan
dar i batasan integr itas .
o Karena tes ini dilakukan sebelum keadaan database berubah, maka
disebut: pretes t.
o Pendekatan preventif ini lebih efis ien, karena update tidak per lu di-undo
j ika ter jadi pelanggaran integr itas .
Algor itma modif ikasi kuer i [S tonebraker, 1975], adalah sebuah contoh dar i
metoda preventif yang efis ien dalam menerapkan batasan domain.
Metoda ini akan menambahkan kualifikas i as ser tion kepada kualifikas i kuer i dengan
operator AND, sehingga kuer i termodifikas i dapat memaksakan integr itas :
Contoh 8.14.
Kuer i untuk menaikkan budget dar i proyek CAD/CAM dengan 10% , dinyatakan oleh:
UPDAT E PROJ
S ET BUDGET = BUDGET * 1.1
WHERE PNAME = "CAD/CAM"
akan ditrans formas ikan menjadi kuer i ber ikut, dengan tujuan untuk memaksakan
batasan domain yang dibahas dalam contoh 8.9.
Budget dar i sebuah proyek ter letak antar a 500K dan 1000K.
UPDAT E PROJ
S ET BUDGET = BUDGET * 1.1
WHERE PNAME = "CAD/CAM"
AND NEW.BUDGET ³ 500000
AND NEW.BUDGET £ 1000000
Algor itma modifikas i kuer i, yang dikenal karena elegan, menghas ilkan pretes t pada
saat run- time dengan melakukan operas i AND antara predikat as ser tion dengan
predikat update dar i setiap ins truks i transaks i.
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 14
Contoh 8.15:
Pernyataan foreign- key dar i contoh 8.7. dapat ditulis kan kembali sebagai:
Nomor proyek PNO dalam relas i AS G adalah foreign- key yang match dengan
pr imary- key PNO dalam relas i PROJ. Dengan kata lain, sebuah proyek yang
ada dalam relas i AS G harus ada di dalam relas i PROJ.
" g Î ASG, $ j Î PROJ : g.PNO = j .PNO
Pernyataan as ser tion ini tidak dapat diproses oleh modifikas i kuer i, karena var iabel j
tidak dikuantifikas i secar a univer sal ($ = eksistensial).
8 .3 .2 . Kont r ol S emant ik I ntegr itas T erdis t r ibus i
Dalam pasal ini kita membahas algor itma untuk menjamin integr itas semantik dar i
databas e terdis tr ibus i. Algor itma ini merupakan per luasan dar i metode yang dibahas
sebelum ini.
Asums inya : ada otonomi lokas i, yang berar ti setiap lokas i memproses kuer i lokal dan
melakukan kontrol data sebagai sebuah DBMS terpusat. Hal ini akan menyederhakan
pembahasan.
DE F I NI S I DARI I NT EGR I T Y-AS S ER T I ON T E R DI S T R I B U S I .
S ebuah as ser tion dapat dilihat sebagai sebuah kualifikas i kuer i yang dapat bernilai
true atau false untuk setiap tuple dalam produk Car tes ian antara relas i- relas i yang
ditentukan oleh var iable tuple.
Karena as ser tion dapat melibatkan data yang dis impan pada lokas i- lokas i yang
berbeda, penyimpanan mereka harus ditentukan supaya dapat meminimalkan biaya
untuk pengecekan integr itas .
Ada s trategi yang didasar kan kepada taksonomi dar i integr ity-as ser tion. S trategi ini
membedakan tiga kelas as ser tion:
1. I ndividual-as ser tion: yaitu as ser tion dengan relasi tunggal dan var iabel
tunggal. T uple- tuple yang di-update tidak tergantung kepada tuple- tuple
lainnya. Misalkan batasan domain dalam contoh 8.9. merupakan sebuah
individual-as ser tion:
Budget dar i sebuah proyek ter letak antar a 500K dan 1000K.
CHECK ON PROJ (BUDGET ³ 500000 AND BUDGET £ 1000000)
= = = >Hanya ada satu relas i (PROJ) dan satu var iabel (BUDGET ).
2. S et-or iented as ser tion. Yaitu as ser tion yang mencakup:
a. Batasan relas i tunggal dengan multi-var iabel. Misalnya: functionaldependency
dalam contoh 8.8.:
Nomor pegawai ENO s ecara fungs ional menentukan nama pegawai
ENAME.
ENO I N EMP DET ERMI NES ENAME
= = = > Satu relas i: EMP. Multi var iabel: ENO, ENAME.
b. Batasan multi- relas i dan multi-var iabel. Misalnya batasan foreign- key
dalam contoh 8.7.:
Nomor proyek PNO dalam relas i AS G adalah foreign- key yang match
dengan pr imary- key PNO dalam relas i PROJ. Dengan kata lain, sebuah
proyek yang ada dalam relas i AS G harus ada di dalam relas i PROJ.
PNO I N AS G REFERENCES PNO I N PROJ
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 15
= = = >Multi relas i: ASG, PROJ. Multi var iabel: ASG.PNO, PROJ.PNO
3. As ser tion yang melibatkan aggregate: Memer lukan pemrosesan khusus ,
karena biaya untuk mengevaluas i aggregate. Misalnya, as ser tion dar i contoh
8.13. :
Duras i total dar i semua pegawai dalam proyek CAD adalah kurang dar i 100.
CHECK ON g:ASG, j :PROJ (S UM(g.DUR WHERE g.PNO= j .PNO) < 100
I F j .PNAME = "CAD/CAM" )
= = = >Melibatkan aggregate- function yaitu S UM().
Ketika ter jadi integr ity-as ser tion yang baru, maka definis i dar i as ser tion ter sebut
dapat mulai dibuat pada salah satu lokas i yang menyimpan relas i- relas i yang ter libat
dalam as ser tion.
Fragmen yang berbeda dari relas i yang sama dapat ber lokas i pada lokas i yang
berbeda. S ehingga, membuat definis i dar i integr ity-as ser tion akan menjadi operas i
terdis tr ibus i. Operas i ini terdir i dar i dua langkah:
Ø Melakukan trans formasi high- level-as ser tion menjadi compiled-as ser tion.
(Memakai teknik yang dibahas dalam pasal 8.3.1.)
Ø Menyimpan compiled-as ser tion sesuai dengan kelasnya (1, 2 atau 3).
As ser tion dar i kelas 3 akan diper lakukan seper ti kelas 1 atau 2, tergantung
apakah mereka individual atau set-or iented.
I ndividual as ser t ion. Definis i dar i as ser tion akan dikir imkan ke semua lokas i yang
ber is i fragmen- fragmen relas i yang dilibatkan dalam as ser tion.
As ser tion harus kompatibel dengan data relas i pada setiap lokas i. Kompatibilitas
dapat dicek pada dua level: Level predikat dan level data.
Ø Kompatibilitas pada level predikat: diver ifikas i dengan cara: membandingkan
predikat as ser tion dengan predikat fragmen. S ebuah as ser tion C tidak
kompatibel dengan predikat fragmen p, j ika " C true" berakibat " p false" . Dan
akan kompatibel dalam semua keadaan lainnya.
Jika satu lokasi menemukan ada yang tidak kompatibel, maka definis i
as ser tion akan ditolak secara global (semua s is tem), karena tuple dar i
fragmen ter sebut tidak memenuhi batasan integr itas .
Ø Kompatibilitas pada level data: Jika kompatibilitas predikat telah disepakati,
maka as ser tion akan dites melawan data (ins tance) dar i fragmen. Jika tidak
kompatibel, maka as ser tion juga akan ditolak pada tingkat global.
Jika kompatibilitas telah ditemukan, maka as ser tion akan dis impan pada setiap lokas i.
Perhatikan bahwa cek terhadap kompatibilitas hanya untuk compiled-as ser tion yang
tipe update-nya adalah inser tion (yaitu tuple- tuple dalam fragmen dianggap
dis is ipkan).
Contoh 8.18.
Misalkan relas i EMP, ter fragmentas i hor isontal pada tiga lokas i memakai predikat:
p1: 0 # ENO < "E3"
p2: " E3" # ENO # " E6"
p3: ENO > "E6"
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 16
dan domain dar i as ser tion C: ENO < "E4" .
As ser tion C :
kompatibel dengan p1 (j ika C true, p1 true),
kompatibel dengan p2 (j ika C true, p2 tidak selalu false),
tidak kompatibel dengan p3 (j ika C true, p3 false).
Dengan demikian, maka as ser tion C akan ditolak secara global, karena tuple pada
lokas i 3 tidak dapat memenuhi C, dan relas i EMP tidak memenuhi C.
S et -or iented as ser t ion. As ser tion ini multi-var iabel, yaitu mereka melibatkan
predikat join. Meskipun predikat as ser tion dapat multi- relas i (atau bisa j uga relas i
tunggal), sebuah compiled-as ser tion diasos ias ikan dengan relas i tunggal.
Dengan demikian, definisi as ser tion akan dikir imkan ke semua lokasi yang
menyimpan fragmen- fragmen yang di- referens ikan oleh multi-var iable ini.
Pengecekan kompatibilitas juga akan melibatkan fragmen- fragmen dar i relas i yang
dipakai dalam predikat join.
Kompatibilitas predikat akan tidak berguna di s ini, karena tidak mungkin untuk
menar ik kes impulan bahwa predikat p adalah false, j ika as ser tion C (didasarkan pada
predikat join) adalah true.
Dengan demikian, C harus dicek pada level data. Cek kompatibilitas ini akan
memer lukan operas i join antara setiap fragmen dar i relas i R, dengan semua fragmen
dar i relas i lainnya S . Yaitu, yang ter libat dalam predikat as ser tion.
Operas i join ini dapat berbiaya mahal, dan juga akan memer lukan optimisas i oleh
query-proces sor terdis tr ibus i.
Ada tiga kas us yang mungkin ter jadi:
1. Fragmentas i dari R diturunkan dari S , berdasarkan pada semij oin. Yaitu
semijoin pada atr ibut yang dipakai dalam predikat join as ser tion.
2. S difragmentas i pada atr ibut join.
3. S tidak difragmentas i pada atr ibut join.
Ketiga kas us ini, sesuai urutannya semakin mahal biaya dalam melakukan
pengecekan kompatibilitas .
Dalam kasus per tama, pengecekan kompatibilitas cukup murah karena [tuple S yang
matching dengan tuple R] akan berada pada lokas i yang sama.
Dalam kasus kedua, setiap tuple R harus dibandingkan dengan paling banyak satu
fragmen dar i S , karena nilai atr ibut join dar i tuple R dapat dipakai untuk mencar i
lokas i S yang ber is i fragmen yang berhubungan.
Dalam kasus ketiga, setiap tuple dar i R harus dibandingkan dengan semua fragmen
dar i S .
Jika kompatibilitas ditemukan untuk semua tuple R, maka as ser tion akan dis impan
pada setiap lokas i.
E NFOR CEMENT DAR I I NT EGR I T Y-AS S ER T I ON T E R DI S T R I B U S I .
Penerapan dar i integr ity-as ser tion terdis tr ibus i akan lebih kompleks dar ipada yang di
dalam DBMS terpusat. Malasah utama adalah untuk memutuskan: di dalam lokas i
mana akan dilakukan penerapan integr ity-as ser tion.
Disusun oleh : Sri Hartati Wijono, S.Si. & A. Rita Widiarti, S.Si. Hal 17
S olus inya akan tergantung kepada :
Ø kelas dar i as ser tion,
Ø tipe dar i operas i update,
Ø query-mas ter - s ite, yaitu lokas i yang melakukan operas i update.
Kita akan membahas tipe kelas yang berbeda.
I ndividual as ser t ion.
Ada dua kas us :
Ø Jika update merupakan s tatement I NS ERT , maka semua tuple yang akan
dis is ipkan berasal dar i user . Dalam kasus ini, semua as ser tion individual dapat
dipaks a untuk diterapkan pada lokas i di mana update dilakukan.
Ø Jika update merupakan update terkualifikas i (s tatement DELET E atau MODI FY),
maka penerapan as ser tion akan dilakukan (dikir im) ke : lokas i- lokas i yang
menyimpan relas i yang akan di-update.
Query-proces sor akan melakukan eksekus i terhadap kualifikas i update untuk
setiap fragmen.
T uple- tuple yang dihas ilkan pada setiap lokas i akan dikombinas ikan menjadi :
Ø satu relas i temporer , dalam hal DELET E, atau
Ø dua relas i temporer, dalam hal MODI FY, yaitu R+ (ber is i tuple yang
dis is ipkan ke R) dan R-(ber is i tuple yang dihapus dar i R).
S etiap lokas i yang ter libat dalam update terdis tr ibus i ini, akan memaksakan
penerapan as ser tion yang relevan.
R ingkasan Kont rol I ntegr itas T erdis t r ibus i:
Masalah utama dar i kontrol integr itas terdis tr ibus i adalah, biaya pemrosesan dan
biaya komunikas i yang mahal untuk menerapkan as ser tion terdis tr ibus i.
Dua is u utama dalam merancang s ubs is tem integr itas terdis tr ibus i adalah:
Ø Membuat definis i dar i as ser tion terdis tr ibus i.
Ø Algor itma penerapan (enforcement).
Di mana keduanya harus meminimalkan biaya untuk pengecekan integr itas
terdis tr ibus i.
Kontrol integr itas terdis tr ibus i dapat dicapai secara lengkap, dengan memper luas
metoda preventive dengan berdasarkan kepada kompilas i semantik dar i integr ityas
ser tion. (compiled-as ser tion).
Metoda ini kompatibel dengan definis i fragmen, dan akan meminimalkan biaya
komunikas i antar lokas i.
Penerapan integr itas terdis tr ibus i akan memiliki per formance yang lebih baik, j ika
fragmen- fragmen didefinis ikan dengan hati-hati. Dengan demikian, spes ifikas i dar i
batasan (cons traints ) integr itas terdis tr ibus i merupakan aspek penting dalam proses
perancangan databas e terdis tr ibus i.